KOTA MALANG, Carut3.com — Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Putu Kholis Aryana, turun langsung membimbing 13 taruna Latihan Kerja (Latja) Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan 58 Batalyon “Ksatriya Hawin Sarawahita”. Proses pembinaan ini sengaja berfokus pada penguatan profesionalisme, pendekatan humanis, serta kedekatan nyata dengan warga lokal.
Rangkaian kegiatan tidak melulu soal fisik, seperti rutinitas olahraga pagi bersama Kapolresta. Para taruna juga diterjunkan langsung dalam berbagai aktivitas kepolisian berbasis masyarakat. Demi memastikan ilmu yang didapat lebih aplikatif, jajaran Pejabat Utama hingga Kapolsek di Polresta Malang Kota dikerahkan sebagai mentor lapangan.
“Kami ingin para taruna tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Kota Malang ini adalah miniatur Indonesia. Mereka harus mampu memahami keberagaman karakter masyarakat sebagai bekal menjadi perwira Polri yang profesional dan humanis,” ujar Kombes Pol Putu Kholis.
Turun ke Warga dan Jaga Kamtibmas
Kombes Putu Kholis menegaskan bahwa kunci utama dalam menjaga kondusivitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) adalah pendekatan sosial. Alhasil, para taruna diajak aktif melakukan sambang poskamling hingga berdialog santai dengan warga di malam hari.

Lewat interaksi langsung ini, calon perwira Polri tersebut diajak belajar mendengar, menyerap aspirasi, sekaligus memahami ekspektasi nyata masyarakat terhadap institusi kepolisian.
Asah Empati lewat Kunjungan ke Keluarga Korban Kanjuruhan
Selain berpatroli, para taruna juga diajak bersilaturahmi ke kediaman keluarga korban tragedi Kanjuruhan yang berdomisili di Kota Malang. Agenda ini menjadi momen penting untuk mengasah sensitivitas sosial, empati, serta memahami aspek psikologis dalam penanganan isu kemanusiaan.

Salah satu taruna, Joshua Stephanus Panjaitan, membagikan pengalamannya saat mengunjungi kediaman Ibu Astri di Kelurahan Gadang bersama rombongan Polsek Sukun. Menurutnya, turun ke lapangan memberikan pelajaran berharga yang tidak ada di dalam buku teori kampus.
“Kami belajar langsung berinteraksi dengan masyarakat, mendengar aspirasi, serta memahami harapan mereka terhadap Polri. Kami juga meminta saran dan doa agar kelak bisa menjalankan tugas dengan baik,” ungkap Joshua.
Saat berpamitan, Ibu Astri menitipkan pesan mendalam kepada Joshua dan rekan-rekan tarunanya agar selalu memegang teguh komitmen dalam melindungi warga.
“Menjadi polisi itu tujuan utamanya adalah memberikan perlindungan dan pengabdian kepada masyarakat. Semoga kalian bisa menjalankan amanah itu dengan hati,” pesan Ibu Astri.
Melalui program Latja ini, para taruna Akpol diharapkan mampu mengawinkan teori akademik dengan realita di lapangan. Output-nya, mereka siap tumbuh menjadi perwira Polri yang tegas, adaptif, humanis, dan selalu hadir sebagai solusi di tengah masyarakat. (Isp)