Kisah Iptu Totok: Polisi Sekaligus Guru Ngaji yang Jaga Kamtibmas Malang

IMG-20260615-WA0037

Malang, Carut3.com-Suasana religius menyelimuti Masjid Ramadhan Araya, Kota Malang, pada Minggu (14/6/2026) malam. Ribuan jamaah tampak memadati area masjid demi mendengarkan tausiyah dari Da’i nasional terkemuka, Ustad Das’ad Latief, dalam sebuah gelaran Kajian Akbar.

​Di tengah lautan jamaah yang hadir, tampak seorang perwira polisi yang menyimak dengan saksama setiap untaian kalimat sang ustad. Beliau adalah Iptu Totok Haryanto, Kasubsie Keuangan Polresta Malang Kota. Di kalangan warga lokal, pria yang akrab disapa Ustad Totok ini bukan sekadar aparat penegak hukum, melainkan juga sosok guru ngaji dan pembina Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di lingkungan tempat tinggalnya.

​Bagi Iptu Totok, materi yang disampaikan malam itu bukan sekadar ceramah agama biasa, melainkan sebuah panduan strategis yang sangat relevan untuk memperkuat persatuan warga sekaligus menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di Kota Malang.

​3 Pesan Penting Ustad Das’ad Latief untuk Kondusivitas Warga

​Kajian akbar tersebut membedah berbagai persoalan nyata yang kerap dihadapi masyarakat urban modern. Dari sekian banyak pesan, Iptu Totok menggarisbawahi beberapa poin krusial yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sosial sehari-hari:

​1. Menghadapi Ujian Hidup dengan Bijak

​Ustad Das’ad Latief menekankan bahwa tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang luput dari masalah, apa pun profesi, jabatan, atau status sosialnya.

​”Setiap orang pasti memiliki ujiannya masing-masing. Baik sebagai anggota Polri, orang tua, guru mengaji, bahkan seorang pemimpin. Yang membedakan kualitas seorang manusia adalah bagaimana cara dia menyikapi dan mencari jalan keluar atas persoalan tersebut,” tutur Iptu Totok merefleksikan isi ceramah.

​2. Masjid sebagai Fondasi Peradaban dan Ketenteraman

​Dalam tausiyahnya, dikisahkan pula momentum historis saat Rasulullah SAW berhijrah ke Yatsrib (Madinah). Hal pertama yang dibangun oleh Rasulullah bukanlah pasar atau pusat pemerintahan, melainkan masjid.

​Iptu Totok menangkap pesan spiritual yang mendalam dari kisah tersebut. Menurutnya, membangun lingkungan yang aman harus dimulai dari penguatan spiritualitas dan kebersamaan. Jika aktivitas masjid hidup dan makmur, maka secara otomatis hubungan persaudaraan antarwarga akan semakin erat, menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan minim konflik.

​3. Sabar dan Sholat sebagai Peredam Emosi

​Di era digital dengan arus informasi yang begitu cepat, dinamika sosial sering kali memicu gesekan. Ketenangan batin menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu negatif. Sholat berjamaah dinilai bukan hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga wadah memperkuat silaturahmi, kepedulian sosial, dan persatuan.

​Filosofi “Subhanallah”: Kritik yang Membawa Solusi

​Salah satu analogi menarik yang disoroti dalam kajian tersebut adalah etika dalam menyampaikan kritik sosial. Ustad Das’ad Latief mengibaratkan kritik seperti aturan dalam sholat berjamaah. Ketika seorang imam melakukan kekeliruan, makmum tidak serta-merta membubarkan barisan atau mencaci, melainkan mengingatkan dengan santun melalui ucapan “Subhanallah”.

Iptu Totok menilai filosofi ini sangat tepat untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat di Kota Malang. Warga boleh memberikan masukan kepada pemerintah maupun aparat, namun harus disampaikan dengan cara yang baik dan disertai solusi yang konstruktif demi melahirkan sinergi yang kuat.

​Sinergi Program Preventif Melalui Pendekatan Agama

​Sebagai bagian dari korps Bhayangkara yang juga aktif di bidang keagamaan, Iptu Totok memandang poin-poin kajian ini memiliki nilai strategis yang tinggi. Pendekatan keagamaan dan penguatan akhlak dinilai sebagai langkah preventif (pencegahan) dan preemtif yang sangat efektif untuk meminimalisir potensi gangguan Kamtibmas.

​Kajian akbar yang berlangsung khidmat tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama. Ribuan jamaah bersimpuh memohon keselamatan, kedamaian, kemakmuran, serta keberkahan agar Kota Malang senantiasa menjadi kota yang aman, religius, dan kondusif dalam menghadapi berbagai tantangan zaman di masa depan. (Isp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *