MALANG, Carut3.com — Polresta Malang Kota mengimbau masyarakat dan lingkungan pendidikan untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis orang-orang di sekitar. Imbauan ini disampaikan menyusul insiden terjatuhnya RR (19), mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2025, dari lantai enam Gedung Sentral Fakultas Pertanian UB.
Kasi Humas Polresta Malang Kota Ipda Lukman Sobikhin mengonfirmasi bahwa kondisi RR kini telah stabil setelah menjalani tindakan bedah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang. Meski demikian, korban masih membutuhkan pemantauan intensif dari tim medis.
“Pascaoperasi, kondisi korban stabil dan masih dirawat di ICU Kapuas RSSA. Kedua kakinya telah dipasang gips dan terdapat beberapa jahitan di sekitar wajah,” kata Lukman, Jumat, 11 September 2026.
Peristiwa ini bermula saat petugas Polsek Lowokwaru menerima laporan warga mengenai seorang mahasiswa yang tergeletak tak sadarkan diri di area Gedung Sentral Fakultas Pertanian UB. Petugas yang tiba di lokasi langsung mengevakuasi korban ke rumah sakit dan melakukan olah tempat kejadian perkara.
Hingga saat ini, penyidik Polresta Malang Kota masih mendalami penyebab serta motif di balik peristiwa tersebut. Polisi telah mengamankan sejumah bukti petunjuk, termasuk rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar area gedung guna menyusun reka kronologi kejadian secara menyeluruh.
“Untuk motif dan latar belakangnya masih dalam penyelidikan. Kami menunggu kondisi korban memungkinkan untuk memberikan keterangan,” ujar Lukman.
Selain fokus pada penanganan fisik, polisi menekankan pentingnya intervensi psikologis melalui pendampingan dan asesmen berkala. Langkah ini dinilai krusial untuk menunjang proses pemulihan trauma korban sekaligus mencegah terulangnya kejadian serupa di lingkungan kampus.
Lukman mengingatkan bahwa upaya pencegahan tindakan yang membahayakan diri memerlukan peran aktif dari keluarga, rekan sebaya, dan civitas akademika. Pendekatan humanis serta komunikasi yang inklusif menjadi kunci utama dalam mendeteksi tekanan emosional sejak dini.
“Jika seseorang menunjukkan tekanan emosional atau perubahan perilaku, keluarga dan orang terdekat diharapkan segera memberikan pendampingan serta menghubungkannya dengan tenaga profesional untuk mendapatkan bantuan yang tepat,” tuturnya.
Insiden ini menjadi catatan penting bagi evaluasi sistem penanganan kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam menyediakan ruang aman dan akses bantuan psikologis yang responsif bagi para mahasiswa. (Isp)