Polisi RW di Malang Dampingi Anak Beresiko Putus Sekolah Lewat Hipnoterapi

IMG-20260912-WA0003

MALANG, Carut3.com — Pendekatan humanis dalam pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat terus dioptimalkan jajaran Polresta Malang Kota. Tidak sekadar memproses perkara hukum, fungsi Polisi RW kini merambah ranah preventif dengan menyentuh persoalan pendidikan serta pembentukan mental anak di tingkat tapak.

Langkah tersebut ditunjukkan oleh Perwira Polisi RW 01 Kemirahan, AKP Totok Hariyanto. Perwira yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Keuangan (Kasi Keu) Polresta Malang Kota itu turun tangan mendampingi AR (12), seorang murid kelas VI sekolah dasar di kawasan Purwodadi, yang sempat mengalami penurunan motivasi belajar dan terlibat masalah perilaku di sekolahnya.

Proses pendampingan berlangsung di kediaman Ketua RW 01 Kemirahan, Rita. Langkah preventif ini diinisiasi setelah ketua RW menerima aduan dari DN, orang tua AR. DN mengeluhkan kebiasaan buruk putranya yang berdampak pada dinamika belajar di sekolah lama, hingga berujung pada keputusan untuk memindahkan AR ke sekolah baru.

Guna memulihkan kondisi psikologis dan perilaku anak, Totok mengombinasikan teknik komunikasi motivatif dengan pendekatan hipnoterapi. Metode ini diarahkan untuk membongkar resistensi emosional anak serta menanamkan kesadaran bawah sadar mengenai pentingnya tanggung jawab pribadi.

“Fokus utama kami adalah membangun kesadaran intrinsik dari diri anak itu sendiri, bukan lewat paksaan. Anak perlu memahami bahwa masa depannya ditentukan oleh pilihannya hari ini,” ujar Totok, yang juga aktif sebagai pembina Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) setempat.

Setelah sesi pendampingan, AR berkomitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya dan berjanji akan kembali fokus pada kegiatan belajar.

Menurut Totok, pola pengasuhan di rumah memegang peranan kunci dalam membentuk karakter anak. Ia mengimbau para orang tua agar mengedepankan komunikasi dua arah ketimbang pola instruktif yang cenderung kaku. Faktor lingkungan pergaulan, perhatian emosional, hingga kondisi sosio-ekonomi keluarga turut menjadi variabel penting yang memengaruhi mentalitas anak.

Sebagai panduan praktis bagi para orang tua, Totok membagikan sejumlah langkah edukatif:

  • Penjadwalan Konsisten: Menyusun jam belajar yang teratur di rumah tanpa bergantung pada instruksi eksplisit.

  • Pendampingan Non-Judisial: Mendampingi proses belajar anak tanpa memberikan stigma atau penghakiman atas kesalahan masa lalu.

  • Apresiasi Bertahap: Memberikan pengakuan positif atas sekecil apa pun kemajuan perilaku yang ditunjukkan anak.

  • Pembatasan Gawai: Mengontrol penggunaan perangkat elektronik selama jam-jam produktif dan waktu belajar.

  • Orientasi Cita-cita: Membuka ruang diskusi secara berkala mengenai orientasi masa depan dan manfaat pendidikan jangka panjang.

Inisiatif yang dilakukan di RW 01 Kemirahan ini menjadi potret transformasi peran kepolisian di tingkat komunitas. Melalui intervensi dini yang terukur, Polisi RW berupaya memutus potensi deviasi perilaku pada anak sekaligus mendukung keberlanjutan literasi dan pendidikan generasi muda. (Isp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *