Polisi dan Taruni Akpol Gagalkan Aksi Bunuh Diri di Alun-Alun Malang

IMG-20261021-WA0035

MALANG, Carut3.com– Kesigapan anggota kepolisian bersama masyarakat sekitar berhasil menggagalkan percobaan bunuh diri seorang remaja perempuan berinisial AS (19) di area Alun-Alun Merdeka, Kota Malang, pada Selasa (20/10/2026) pagi sekitar pukul 09.30 WIB. Penanganan cepat yang mengedepankan pendekatan humanis ini berhasil menyelamatkan nyawa korban yang sempat nekat melukai lengannya sendiri dengan pecahan kaca.

Kejadian berawal saat Aipda Firman, anggota Satlantas Polresta Malang Kota yang sedang bertugas di Pos 12.0 Alun-Alun Merdeka, didatangi oleh korban yang mengenakan hijab hitam. Remaja asal Jalan Stadion Barat, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang tersebut mengaku sengaja pergi ke Kota Malang untuk mencari ketenangan akibat masalah keluarga yang dihadapinya.

Kasi Humas Polresta Malang Kota, Ipda Lukman Sobhikin, membenarkan insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa Aipda Firman secara perlahan berupaya mendengarkan keluh kesah AS yang merasa tertekan dan kerap disalahkan oleh lingkungan terdekatnya.

“Petugas di lapangan berupaya merangkul dan memberikan motivasi kepada korban agar tidak putus asa. Kami ingatkan bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan ia masih memiliki masa depan yang panjang,” ungkap Ipda Lukman pada Rabu (21/10/2026).

Kejelian Petugas dan Momen Pengamanan

Usai berbincang singkat, AS sempat berpamitan dan meninggalkan pos pengamanan. Namun, naluri dan rasa khawatir membuat Aipda Firman memutuskan untuk terus memantau pergerakan korban dari kejauhan. Keputusan tersebut terbukti krusial. Tak berapa lama, petugas melihat korban duduk menyendiri sambil menggores-goreskan benda tajam ke tangannya.

Menyadari situasi bahaya, Aipda Firman bergegas berlari mendekati korban. Korban ternyata telah memegang pecahan kaca dan mencoba mengiris lengannya sendiri. Meski sempat mendapat perlawanan dari korban yang emosinya belum stabil, petugas berhasil mengamankan serta merebut pecahan kaca tersebut dari genggaman AS.

Aipda Firman kemudian meminta bantuan warga sekitar untuk mengamankan lokasi, sekaligus merapat ke personel Pamapta Polresta Malang Kota untuk meminta dukungan penanganan lanjutan.

Peran Taruni Akpol dan Penanganan Psikologis

Di lokasi kejadian, penanganan tidak hanya berfokus pada pengamanan fisik, tetapi juga pemulihan kondisi psikologis korban. Tiga taruni Latihan Kerja (Latja) Akademi Kepolisian (Akpol)—yakni Azzah Paramadhita, Melysa Frederica Ivana Lubis, dan Nur Asma Yansyah—turut mengambil peran penting dalam menenangkan korban.

Ketiga taruni Akpol tersebut mengajak AS berdialog secara persuasif dari hati ke hati. Pendekatan lembut ini perlahan berhasil meredakan gejolak emosi korban. Mereka juga menyediakan air minum serta makanan ringan untuk mengembalikan stamina dan ketenangan pikiran AS.

Reuni Hangat Bersama Keluarga

Setelah kondisi emosional AS stabil, pihak Pamapta Polresta Malang Kota segera menghubungi keluarga korban. Tak lama berselang, bibi dari korban yang berdomisili di kawasan Kedungkandang tiba di Pos 12.0 Alun-Alun Merdeka.

Menggunakan kendaraan operasional Pamapta, korban kemudian diantar menuju kediaman sang bibi dengan pendampingan langsung dari personel Samapta dan Taruni Latja Akpol. Pendampingan dilakukan hingga ibu kandung AS datang menjemputnya untuk kembali ke rumah mereka di Turen.

“Alhamdulillah, AS dapat berkumpul kembali dengan ibu kandungnya dan telah mendampinginya pulang ke Turen. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepedulian dan kerja sama masyarakat di Alun-Alun Merdeka saat kejadian,” ujar Ipda Lukman penuh syukur.

Ia menegaskan bahwa kesigapan personel di lapangan serta kepedulian warga merupakan wujud nyata perlindungan terhadap keselamatan jiwa masyarakat. Pendekatan berbasis empati dan rasa kepedulian sangat dibutuhkan saat merespons situasi darurat kesehatan mental.

Peristiwa ini menjadi momentum pengingat pentingnya kepekaan lingkungan sekitar terhadap kerabat atau orang di dekat kita yang sedang mengalami tekanan psikologis berat. Komunikasi yang terbuka, sikap merangkul tanpa menghakimi, serta dukungan emosional dari keluarga menjadi kunci utama dalam membuka kembali harapan hidup seseorang di masa-masa sulit. (Isp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *