MALANG KOTA, Carut3.com – Gelombang aksi memperingati Hari Tani Nasional 2026 kembali bergulir di Kota Malang. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Resah (AMARAH) Brawijaya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Malang pada Kamis (24/9/2026) untuk menuntut penuntasan berbagai krisis agraria yang membayangi kesejahteraan petani dan masyarakat adat.
Rangkaian aksi diawali dengan titik kumpul massa di kawasan depan Kantor Pos Kota Malang. Berjalan kaki melakukan longmarch menyusuri Jalan Kahuripan, massa aksi melantunkan orasi perjuangan sebelum akhirnya memadati area depan kantor wakil rakyat tersebut.
Di hadapan Gedung DPRD Kota Malang, demonstrasi diwarnai dengan aksi teatrikal yang menggambarkan ketimpangan penguasaan lahan serta marginalisasi sektor pertanian. Melalui mimbar bebas, para orator mengkritik keras kebijakan pusat maupun daerah yang dinilai kerap mengabaikan kedaulatan pangan dan ruang hidup masyarakat pedesaan.

AMARAH Brawijaya membawa 10 poin tuntutan utama dalam aksi tersebut. Beberapa poin krusial yang ditegaskan meliputi:
-
Reforma Agraria & Perlindungan Lahan: Mengakselerasi reforma agraria sejati serta menjamin perlindungan hak atas tanah bagi petani.
-
Pengesahan RUU Masyarakat Adat: Mendesak DPR RI segera mengesahkan payung hukum perlindungan masyarakat adat dan menghentikan segala bentuk kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan serta petani.
-
Evaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN): Meminta pemerintah meninjau ulang PSN yang berdampak pada penggusuran dan kerusakan ekologis.
-
Tata Kelola Pupuk Bersubsidi: Menuntut pembenahan rantai distribusi pupuk bersubsidi agar tepat sasaran dan mudah diakses oleh petani kecil.
-
Partisipasi Publik & Evaluasi Regulasi: Mendorong Pemkot dan DPRD Kota Malang aktif mengawal aspirasi daerah serta mengevaluasi regulasi pusat yang merugikan rakyat.
“Kami menyuarakan fakta bahwa petani masih terus dimarginalkan di negerinya sendiri. DPRD harus berdiri bersama rakyat dan mengawal aspirasi ini secara nyata, baik isu lokal maupun nasional,” tegas salah satu orator di atas mobil komando.
Pengamanan Humanis dan Insiden Aksi Teatrikal
Guna mengantisipasi potensi gangguan ketertiban umum, Polresta Malang Kota mengerahkan sebanyak 290 personel gabungan. Pengamanan difokuskan pada pengawalan alur massa, pengaturan lalu lintas, serta penjagaan ketat pada sejumlah objek vital di sekitar Gedung DPRD dan Balai Kota Malang.
Kabagops Polresta Malang Kota, Kompol Rizki Julianda Putera Buna, menyampaikan bahwa pengerahan personel bertujuan menjamin hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat di muka umum sekaligus memastikan aktivitas kota tetap berjalan kondusif.

“Pendekatan pengamanan difokuskan pada cara-cara persuasif dan humanis. Personel menjaga ketertiban aksi sekaligus mengamankan sektor vital di sekitarnya,” terang Rizki di lokasi kegiatan.
Sisi humanis kepolisian juga terlihat saat terjadi insiden kecil di tengah pertunjukan teatrikal. Seorang mahasiswi peserta aksi tersambar percikan api dari flyer yang dibakar oleh peserta lainnya. Petugas dari Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sie Dokkes) Polresta Malang Kota yang bersiaga di lokasi langsung bergerak cepat memberikan penanganan medis awal.
Petugas Sie Dokkes Polresta Malang Kota, Lusiana, mengonfirmasi bahwa korban langsung mendapatkan perawatan pada bagian kulit yang terpapar api.
“Begitu terjadi insiden saat teatrikal, tim medis kami di lapangan langsung memberikan pertolongan pertama dan mengoleskan salep khusus luka bakar pada area terimbas,” ungkap Lusiana.
Aksi penyampaian pendapat oleh AMARAH Brawijaya berakhir dengan tertib setelah perwakilan massa menyerahkan naskah tuntutan, sementara petugas kepolisian memastikan pembubaran massa berjalan aman tanpa kemacetan lalu lintas yang berarti. (Isp)