MALANG, Carut3.com – Guna mengantisipasi ancaman bahaya banjir, genangan air, hingga tanah longsor yang kerap mengintai saat musim hujan tiba, Polresta Malang Kota bersama Pemerintah Kota Malang, Kodim 0833, BPBD, relawan, serta elemen masyarakat memperketat konsolidasi dan memperbarui peta kerawanan bencana di lima kecamatan se-Kota Malang.
Langkah taktis ini dirancang untuk memastikan kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi darurat lingkungan sekaligus menekan risiko dampaknya terhadap keselamatan warga dan mobilitas perkotaan.
Langkah penguatan mitigasi tersebut ditegaskan oleh Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Danang Setiyo PS, selepas memimpin Apel Siaga Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi yang melibatkan 357 personel gabungan di Lapangan Buring, kawasan belakang GOR Ken Arok, Kecamatan Kedungkandang, Malang.
Menurut Danang, apel kesiapsiagaan tersebut tidak sekadar agenda seremonial, melainkan wadah integrasi untuk menguji keandalan sarana-prasarana, memantapkan jalur komunikasi antarinstansi, serta menyelaraskan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan darurat saat krisis terjadi.
“Apel gabungan ini menjadi momentum konsolidasi menyeluruh. Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mulai mengguyur kawasan Kota Malang menuntut pemantauan lingkungan dan iklim secara intensif serta berkelanjutan,” ujar Danang.

Pemutakhiran Peta Kerawanan Berbasis Realitas Lapangan
Wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk yang tinggi memiliki kompleksitas risiko tersendiri, terutama ancaman banjir genangan yang berpotensi melumpuhkan arus lalu lintas serta mengganggu aktivitas perekonomian warga. Evaluasi dari rekam jejak bencana pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pijakan utama untuk mempertajam strategi mitigasi dini.
Selain kondisi iklim lokal, dinamika aktivitas vulkanik di kawasan regional seperti Gunung Semeru dan Gunung Bromo juga terus dipantau karena berpengaruh pada perubahan pola cuaca dan kondisi lingkungan sekitar Malang Raya.
Terkait zonasi bahaya, Kapolresta menjelaskan bahwa BPBD Kota Malang telah menyusun peta kerawanan mendetail hingga ke tingkat kelurahan. Meski demikian, peta navigasi bencana tersebut akan terus diperbarui secara berkala menyesuaikan kondisi riil di lapangan.
“Pemetaan tidak boleh kaku. Kita harus mempertimbangkan faktor-faktor baru seperti alih fungsi lahan, laju pembangunan kawasan perumahan, dinamika saluran drainase, hingga proyek infrastruktur yang sedang berlangsung. Dengan data ter-update, kita bisa membaca potensi bahaya lebih cepat,” kata Danang.
Fokus Wilayah Prioritas dan Skema Posko On the Spot
Sejumlah wilayah di Kecamatan Lowokwaru dan Kecamatan Kedungkandang mendapatkan perhatian khusus dari tim gabungan. Hal ini disebabkan kedua kawasan tersebut dilintasi aliran sungai besar yang berpotensi mengalami lonjakan debit air secara mendadak saat hujan deras berdurasi lama.
Sebagai langkah pencegahan jangka pendek, pemerintah daerah bersama unsur terkait telah melakukan normalisasi sungai, pembersihan sedimentasi, dan pemangkasan material pemicu sumbatan air guna mengurangi risiko luapan banjir.
Untuk memperkuat koordinasi di tingkat tapak, Danang menginstruksikan jaringan kerja berjenjang—mulai dari Lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Camat, Kapolsek, hingga Danramil—agar proaktif bertukar informasi perkembangan situasi cuaca dan titik rawan di wilayah masing-masing.

Mengenai mekanisme operasional di lapangan:
-
Kondisi Siaga: Koordinasi dan pemantauan harian dikendalikan melalui markas dan kantor dinas instansi masing-masing.
-
Kondisi Darurat Bencana: Apabila terjadi bencana yang membutuhkan penanganan skala besar, posko terpadu lintas instansi akan langsung didirikan di titik lokasi kejadian (on the spot) guna mempercepat proses evakuasi dan penyaluran bantuan.
Antisipasi Potensi Krisis Kesehatan Pasca-Bencana
Tidak hanya menaruh perhatian pada dampak fisik seperti kerusakan infrastruktur, Kapolresta Malang Kota juga mengimbau seluruh pihak untuk mengantisipasi ancaman krisis kesehatan yang menyertai musim hujan. Lingkungan yang basah dan tergenang sangat rentan memicu lonjakan penyakit menular.
Masyarakat dan fasilitas kesehatan diminta mewaspadai potensi penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), diare, hingga penyakit kulit. Kesiapsiagaan medis dan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi bagian tak terpisahkan dari manajemen bencana hidrometeorologi tahun ini.
Melalui integrasi lintas sektor, pemutakhiran data kerawanan yang presisi, serta kesiapan pengerahan posko darurat secara fleksibel, Polresta Malang Kota optimistis penanganan bencana hidrometeorologi dapat berjalan lebih cepat, terukur, dan mengutamakan keselamatan warga. (Isp)