MALANG, Carut3.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terus mematangkan berbagai langkah strategis untuk merebut kembali penghargaan Piala Adipura pada tahun 2027 mendatang. Langkah ini ditandai dengan pembenahan masif pada tiga sektor vital: optimalisasi sistem pengelolaan sampah, perawatan taman-taman kota, serta pembersihan berkala kawasan sungai dan saluran drainase.
Plaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, mengungkapkan bahwa tim penilai Adipura dari pusat telah menyelesaikan inspeksi lapangan pada Kamis lalu. Penilaian tersebut tergolong mendadak karena pihak DLH baru menerima pemberitahuan resmi sehari sebelumnya, yakni pada Rabu.
Kendati demikian, Raymond menilai inspeksi yang terkesan tanpa persiapan khusus ini justru menjadi cermin mendalam terhadap kondisi harian lingkungan di Kota Malang. Berbagai titik lokasi ditinjau secara mendalam, mulai dari kawasan permukiman warga, pusat aktivitas usaha, ruang terbuka hijau (taman kota), hingga institusi pendidikan dari tingkat dasar (seperti MIN) hingga sekolah menengah.
“Kami baru mendapat informasi pada Rabu, dan penilaian langsung dilaksanakan Kamis. Meski persiapannya sangat terbatas, lokasi yang diperiksa memang menyajikan kondisi riil dan keseharian lingkungan Kota Malang,” ujar Raymond, Minggu (18/10/2026).
Catatan Evaluasi: Penanganan Sampah Liar dan TPS Jembatan Muharto
Secara umum, mayoritas lokasi yang dikunjungi tim penilai dinilai sudah terjaga dengan baik. Namun, DLH Kota Malang tak menampik masih ditemukannya sejumlah catatan kritis yang perlu segera ditindaklanjuti. Salah satu persoalan utama yang menjadi sorotan adalah keberadaan tumpukan sampah liar di pinggir jalan, khususnya di area sekitar Jembatan Muharto dan sekitarnya.

Volume sampah di titik tersebut terbilang fantastis. Setiap harinya, sampah yang diangkut dari lokasi yang dijadikan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) liar itu mencapai 16 hingga 18 ton.
Untuk mengatasi persoalan ini, Kabid Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Malang, Roni Kuncoro, menjelaskan bahwa pihak Pemkot akan menerapkan skema kolaborasi lintas wilayah guna memperketat pengawasan.
”Kami berencana berkolaborasi langsung dengan tim dari Kelurahan Kotalama dan Kelurahan Jodipan untuk menggelar aksi piket bersama. Petugas akan ditempatkan di lokasi untuk mengawasi dan menindak oknum warga yang nekat membuang sampah sembarangan,” tegas Roni.
Tantangan Timbunan Sampah dan Keterbatasan Anggaran
Persoalan persampahan memang menjadi Pekerjaan Rumah (PR) besar bagi Kota Malang. Data DLH mencatat, total timbunan sampah di Kota Malang saat ini mencapai 787 ton per hari, dengan sekitar 700 ton di antaranya masih dibuang langsung ke TPA (Tempat Pemprosesan Akhir).
Raymond menekankan bahwa perubahan sistem pengelolaan sampah dari sistem kumpul-angkut-buang menuju pemilahan mandiri tidak bisa hanya mengandalkan DLH semata. Diperlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, pengelola lingkungan, pihak kelurahan, hingga sinergi antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Di tengah keterbatasan anggaran akibat efisiensi pemda, kolaborasi antar-OPD menjadi kunci penting untuk menyokong kebutuhan fasilitas dasar, seperti penyediaan tempat sampah pilah dan penguatan operasional bank sampah di tingkat RT/RW.
Selain itu, harapan besar ditumpukan pada program pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu ke hilir yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan World Bank (Bank Dunia) yang dijadwalkan mulai berjalan pada 2027. Program ini diharapkan dapat memangkas volume sampah yang masuk ke TPA secara signifikan.
Pembenahan Saluran Drainase dan Kawasan Wisata Sungai
Tidak hanya fokus pada daratan, pembenahan kawasan perairan juga menjadi prioritas penilaian Adipura. DLH Kota Malang menargetkan pembersihan dan pemeliharaan kawasan aliran Sungai Brantas, termasuk titik-titik krusial di area destinasi wisata ikonik seperti Kampung Warna-Warni dan Kampung 3D.
Guna mengantisipasi datangnya musim hujan, pengerjaan pembersihan sungai dan pengerukan drainase akan dipercepat agar tidak menimbulkan genangan maupun banjir.
“Jika masih ada pekerjaan rumah terkait kawasan sungai, segera kami rampungkan. Kami upayakan proses pembenahan selesai dalam minggu depan sebelum memasuki puncaknya musim hujan,” tambah Raymond.
Modal Optimisme Kota Malang
Meskipun dihadapkan pada tantangan pengolahan sampah dan efisiensi anggaran, Pemkot Malang optimistis mampu meraih hasil maksimal pada penilaian Adipura 2027. Kota Malang memiliki modal sosial dan lingkungan yang cukup kuat, di antaranya:
-
Program Kampung Iklim (Proklim): Keberadaan kelompok masyarakat peduli lingkungan yang rutin mendapatkan pembinaan dari pemerintah daerah maupun pusat.
-
Sekolah Adiwiyata: Jaringan sekolah berwawasan lingkungan yang konsisten menerapkan budaya pemilahan sampah dan penanaman pohon.
-
Taman Kota Terpelihara: Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang terjaga keasrian dan kebersihannya.
Melalui integrasi antara pembenahan infrastruktur, pengawasan ketat, kolaborasi masyarakat, serta dukungan program internasional, Kota Malang optimistis dapat mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan siap memboyong Piala Adipura 2027. (Isp)